Teknologi digital berpotensi menciptakan 20-45 juta lapangan kerja baru

  • Whatsapp

Jakarta (ANTARA) – Teknologi digital berpotensi menciptakan lapangan kerja baru bagi 20-45 juta pekerja, menurut Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas)/Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa.

“Sekarang kita telah mengalami digitalisasi, ada 2,4 juta pekerja yang kehilangan pekerjaan, tetapi pada saat yang sama, akan ada jenis pekerjaan baru yang menawarkan 20-45 juta lowongan,” kata Monoarfa saat berbicara dalam diskusi publik tentang Forum Masyarakat Statistik pada hari Senin.

Read More

Oleh karena itu, Indonesia harus melakukan transformasi ekonomi di masa pasca-Covid-19, seperti dengan meningkatkan keterampilan tenaga kerja Indonesia, sehingga ekonomi tidak hanya akan pulih tetapi juga tumbuh lebih tinggi di atas lima persen per tahun.

Selain pemanfaatan teknologi digital, perekonomian diarahkan untuk lebih inklusif dan berkelanjutan, sehingga Indonesia dapat mencapai target Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060.

“Pemulihan ekonomi saja tidak cukup untuk mengangkat lintasan perekonomian, sehingga perlu transformasi ekonomi yang kita arahkan untuk memulihkan dan mengangkat perekonomian lebih tinggi lagi,” tegasnya.

Berita terkait: Menkeu imbau pers beradaptasi dengan kemajuan teknologi digital

Transformasi ekonomi menuju arah yang inklusif dan berkelanjutan juga tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2023 yang memiliki delapan arah kebijakan, antara lain percepatan pengentasan kemiskinan ekstrem; peningkatan kualitas sumber daya manusia, kesehatan, dan pendidikan; dan mengatasi pengangguran dengan menyediakan pekerjaan yang layak.

Pemerintah juga akan mendorong pemulihan bisnis, merevitalisasi industri dan memperkuat penelitian terapan, melakukan pembangunan rendah karbon dan transisi energi, serta mempercepat pembangunan infrastruktur dasar.

BACA JUGA:  2022 menjadi tahun pariwisata, kebangkitan lapangan kerja: menteri

Pada 2023, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi mulai melesat atau lebih tinggi dari target pada 2022, yakni berkisar 5,3-5,9 persen year-on-year, sehingga Indonesia dapat mempertahankan statusnya sebagai negara berpenghasilan menengah ke atas.

Berita terkait: Fokus pada pengembangan teknologi, bukan hanya konsumsi: VP

Related posts