Pengelolaan sampah dapat mengurangi emisi rumah kaca: wakil menteri

  • Whatsapp

Jakarta (ANTARA) – Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong, Senin, menyoroti perlunya pengelolaan sampah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, khususnya metana.

“Penurunan emisi gas rumah kaca melalui sistem pengelolaan sampah juga sangat penting karena akan terkait dengan upaya penanggulangan gas buang,” ujarnya dalam peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2022 yang diikutinya secara virtual, Senin.

Read More

Diharapkan dengan sistem manajemen rantai, tidak ada lagi bahan limbah yang diolah menjadi gas, termasuk gas metana, yang dapat menyebabkan efek rumah kaca, tambahnya.

Pengelolaan sampah juga bisa menjadi sumber energi baru, mendukung Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), dan digunakan untuk memproduksi pupuk dan bahan baku industri, ujarnya.

“Tentunya pengelolaan sampah menjadi bagian penting dari upaya pengurangan emisi gas rumah kaca,” kata Dohong.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) kementerian Rosa Vivien Ratnawati mengatakan Hari Peduli Sampah Nasional tahun ini menandai era baru pengelolaan sampah di tanah air.

Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang bertajuk “Mengelola Sampah, Mengurangi Emisi, Membangun Program Desa Iklim (Proklim)”, menampilkan tiga kegiatan dalam satu program, dan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang sampah untuk membantu bangsa mengatasi masalah iklim sekaligus seperti meningkatkan pengelolaan sampah dan sistem perhutanan sosial, katanya.

Berita terkait: Jokowi Promosikan Pagar Alam Jadi Kota Tanpa Emisi Pertama di Indonesia

“Gas metan yang dihasilkan dari TPA dalam jumlah yang signifikan dapat menyebabkan efek gas rumah kaca. Kemudian, gas metana juga dapat dihasilkan dari kegiatan pengelolaan sampah yang salah seperti pembakaran sampah di tempat terbuka dan pembuangan sampah sembarangan,” ujarnya.

BACA JUGA:  Energi hijau adalah salah satu potensi besar Indonesia: Presiden

Untuk mendukung penanganan emisi gas rumah kaca, kementerian telah memulai program bantuan pengelolaan sampah di empat lokasi di Kabupaten Gianyar Provinsi Bali di bawah Program Desa Iklim (Proklim), ujarnya.

Keempat lokasi tersebut akan menjadi kawasan percontohan bagi 3.270 desa iklim lainnya di seluruh Indonesia, kata Ratnawati.

Berita terkait: Gas alternatif energi yang lebih baik selama masa transisi: PGN

Related posts