Pendidik harus mendapatkan pengetahuan tentang pendidikan inklusif: pelayanan

  • Whatsapp

Jakarta (ANTARA) – Guru di sekolah inklusi harus menimba ilmu tentang pendidikan inklusi agar dapat diterapkan di kelas dengan siswa autis, kata Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

“Kehadiran (siswa) autisme di kelas yang sama dengan siswa lain dapat menimbulkan masalah baru jika semua orang di sekolah yang bersangkutan, terutama para guru, tidak siap untuk menyelenggarakan sistem pendidikan inklusif,” Deputi Perlindungan Anak Khusus pada Demikian disampaikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nahar dalam webinar yang diakses secara online dari sini, Rabu.

Read More

Dikatakannya, guru yang tidak dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan untuk menangani siswa autis bisa menghadapi beberapa tantangan selama proses pembelajaran.

“Guru rentan mengalami masalah tambahan jika upayanya memberikan (belajar) kesempatan kepada siswa tidak (didukung) dengan pengetahuan dan keterampilan tentang autisme,” ujarnya.

Sekolah inklusif akan memandang anak autis sebagai beban karena kurangnya pemahaman tentang autisme dan kurangnya kompetensi guru dalam menangani mereka, katanya.

Berita terkait: Proyek Pemetaan Autisme yang menargetkan 10 anggota ASEAN dimulai hari ini

Nahar mengatakan hal itu masih bisa terjadi, meski sekolah inklusi menjadi pilihan alternatif pendidikan formal bagi anak autis.

Untuk itu, sekolah inklusi perlu memastikan anak autis mendapatkan perlakuan khusus sesuai kebutuhannya, tegasnya.

Pendidik di sekolah seperti itu perlu mengingat bahwa sekolah inklusi tidak hanya dimaksudkan untuk menerima anak berkebutuhan khusus, katanya. Mereka juga harus tahu bagaimana memenuhi kebutuhan setiap anak, katanya.

Guru perlu memperhatikan beberapa hal untuk dapat membantu anak mencapai potensi terbaiknya dalam mengolah informasi. Diantaranya pemahaman pola belajar anak, menyadarkan anak akan arti dari setiap informasi, dan mengaitkan informasi yang diterima anak di kelas dengan kehidupan sehari-hari, tambahnya.

BACA JUGA:  Channel 5 menyebarkan disinfo Rusia dengan laporan palsu tentang kematian 'palsu' di Ukraina

Berita terkait: Dokudrama anak autis Indonesia diluncurkan

Related posts