Pemerintah dukung budidaya sagu untuk meningkatkan ketahanan pangan

  • Whatsapp

Budidaya sagu penting untuk menyediakan sumber pangan alternatif untuk mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia.

Jakarta (ANTARA) – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar mendukung budidaya sagu untuk mendiversifikasi pasokan pangan dalam negeri dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Read More

“Pembudidayaan sagu penting untuk menyediakan sumber pangan alternatif untuk mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu.

Menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, ketahanan pangan mengacu pada ketersediaan pangan yang cukup, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau secara berkelanjutan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, katanya.

Oleh karena itu, ketahanan pangan menjadi salah satu indikator penting dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020–2024.

Ketahanan pangan tidak hanya diukur dari ketersediaan beras, tetapi juga ketersediaan sumber pangan lainnya, ujarnya.

Dengan begitu, diversifikasi pangan akan membantu pemerintah memenuhi kebutuhan pangan nasional, tambahnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, bantuan dana desa yang dikucurkan oleh Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Kementerian Transmigrasi dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kegiatan pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan, serta lumbung pangan desa, kata menteri.

Pemanfaatan bantuan untuk program ketahanan pangan juga akan mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Desa (SDGs), terutama tujuan kedua desa tanpa kelaparan, tambahnya.

Berita terkait: Pengolahan sagu secara tradisional terus berkembang di Maluku

Sementara itu, Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kementerian Eko Sri Haryanto mengatakan sagu memiliki nilai gizi yang tinggi sehingga perlu dipromosikan sebagai pangan pokok nasional untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

BACA JUGA:  Menteri Hartarto meresmikan Pusat Studi G20 berbasis universitas

Selain itu, ada beberapa produk kuliner olahan sagu secara tradisional, seperti: laupek bijak (dari Aceh), bagea (Maluku dan Sulawesi Selatan), papeda (Papua), kapurung (Sulawesi), serta pogalu (Sulawesi Selatan), katanya.

Selain itu, ada beberapa produk olahan sagu yang modern seperti mie sagu, bihun sagu, dan bakso sagu, tambahnya.

Berita terkait: News Feature – Optimalisasi sagu untuk mencapai ketahanan pangan

Related posts