Pakar: Pengetahuan pemilu yang rendah menjadi penghalang keberhasilan pemilu

  • Whatsapp

Jakarta (ANTARA) – Pakar Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan Universitas Gadjah Mada (UGM) Abdul Gaffar Karim mengatakan rendahnya pengetahuan penyelenggara pemilu, khususnya mengenai manajemen pemilu, menjadi salah satu penghambat suksesnya penyelenggaraan pemilu di Indonesia.

Read More

“Kurangnya pengetahuan dan kompetensi yang terstruktur dari pihak penyelenggara pemilu menjadi kendala dalam keberhasilan penyelenggaraan pemilu di Indonesia,” ujar Abdul Gaffar Karim saat menjadi pembicara pada Seminar Internasional Tata Kelola Pemilu bertajuk “Electoral Governance in Indonesia: Adopsi Teknologi, Tingkatkan Transparansi, dan Tingkatkan Integritas”, di Gedung KPU RI, Jakarta, Selasa.

Untuk mengatasi kendala tersebut, menurut dia, pemangku kepentingan terkait perlu memberikan kesempatan pendidikan tinggi tentang tata kelola pemilu bagi penyelenggara pemilu.

Baca juga: Bawaslu: PSU Dampak Minimnya Pengetahuan KPPS Terkait Pilkada

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia Ilham Saputra mengatakan pengetahuan dan kompetensi penyelenggara pemilu terkait tata kelola pemilu memang perlu ditingkatkan agar pesta demokrasi bisa terselenggara lebih baik.

Oleh karena itu, sejak tahun 2015, KPU telah melakukan upaya peningkatan pengetahuan dan kompetensi penyelenggara pemilu melalui pemberian beasiswa strata-2 (S2) di bidang penyelenggaraan pemilu.

“Sejak tahun 2015, KPU bekerjasama dengan Konsorsium Pendidikan Tata Kelola Pemilu Indonesia yang terdiri dari dua belas perguruan tinggi memberikan beasiswa pascasarjana bagi pegawai KPU dalam rangka peningkatan kapasitas, kompetensi, dan profesionalisme melalui pendidikan tinggi,” jelas Ilham.

Baca juga: Akademisi: Tata kelola pemilu yang sederhana perlu diperhatikan

Kedua belas universitas tersebut adalah Universitas Sumatera Utara, Universitas Andalas, Universitas Lampung, Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro, Universitas Airlangga, Universitas Hasanudin, Universitas Nusa Cendana, Universitas Sam Ratulangi, dan Universitas Cendrawasih.

Selama menempuh pendidikan magister, Ilham mengatakan para penerima beasiswa akan mempelajari pendekatan teknologi informasi dalam pemilu, penelitian pemilu, bahkan hal-hal yang dipublikasikan di jurnal yang dapat diakses oleh masyarakat umum.

Dengan demikian, pengetahuan tentang penyelenggaraan pemilu yang dimiliki oleh penyelenggara dapat disebarluaskan kepada masyarakat.

Kedepannya, baik Ilham maupun Abdul Gaffar Karim berharap program beasiswa ini dapat dioptimalkan dan dimanfaatkan oleh lebih banyak penyelenggara pemilu.

Baca juga: KPU Gandeng BPPT Penyelenggaraan Pemilu

Reporter: Tri Meilani Ameliya
Editor: Joko Susilo
HAK CIPTA © ANTARA 2022

Related posts