Konflik Rusia-Ukraina perang supremasi: politisi

Jakarta (ANTARA) – Ketua Partai Gelora Anis Matta memandang konflik Rusia-Ukraina yang sedang berlangsung sebagai perang supremasi antara negara adidaya, sementara Ukraina menderita kerugian tambahan dari krisis ini.

“Ini adalah perang antara negara adidaya, sementara Ukraina (menderita) kerusakan tambahan,” kata Matta dalam sebuah pernyataan di sini, Kamis.

Hal itu disampaikan politisi senior mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu saat berbicara dalam diskusi tentang “Perang Rusia vs Ukraina. Apa dampaknya bagi peta geopolitik dunia?” diselenggarakan oleh partai politik baru pada hari Rabu.

Jika negara adidaya berperang, maka tidak ada lagi aturan dan tidak ada yang bisa mengaturnya dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk Dewan Keamanan PBB, akan menjadi tidak berfungsi, menurut Matta.

Cepat atau lambat Indonesia bisa terseret ke dalam perang dan harus menghadapi dampaknya, untuk itu ia mendesak Indonesia untuk mengambil tindakan pencegahan, karena perang akan mendekati titik ledakan yang lebih besar.

Matta mencatat bahwa dunia saat ini bergerak menuju pembentukan tatanan dunia baru di tengah krisis berkepanjangan, mulai dari pandemi COVID-19 hingga perang Rusia-Ukraina, yang dapat berujung pada konflik global yang berlarut-larut.

“Makanya kita sekarang menunggu tatanan dunia baru. Ini yang kita khawatirkan. Ini yang akan terjadi. Pemenangnya yang akan menentukan aturan. Ini arah dunia yang sedang terjadi,” ujarnya.

Pembentukan tatanan dunia baru akan berbeda dengan tatanan dunia lama yang dibentuk oleh para pemenang Perang Dunia II.

Menurut Matta, pembentukan tatanan dunia baru akan ditentukan oleh proses rasional masyarakat global, karena dunia semakin terintegrasi.

“Namun, bisakah kita sampai pada tatanan dunia baru yang tidak terlalu berdarah? Ini arah yang kita inginkan,” ujarnya.

BACA JUGA:  Tidak ada penularan virus yang terdeteksi di 300 toko dengan alat sterilisasi pembersih udara Seoul Viosys UVC

Matta, mantan Wakil Ketua DPR RI, mengemukakan bahwa di tengah konflik global ini, Indonesia telah membangun kekuatan baru berdasarkan kebijakan bebas aktif yang digagas oleh para pendiri bangsa Indonesia.

Ia meyakini, perang antara Rusia dan Ukraina bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk membuat peta jalan sejarah baru bagi dunia.

“Kita menghadapi konflik berkepanjangan yang akan melemahkan semua negara. Perang antara Rusia dan Ukraina seperti bunyi gong yang berbunyi, ‘Selamat tinggal Tata Dunia Lama dan Selamat Datang Tata Dunia Baru,'” tegasnya.

Matta menyatakan optimisme bahwa Indonesia akan berperan dalam menentukan tatanan dunia baru, khususnya sebagai kekuatan besar dunia setelah runtuhnya negara adidaya nanti.

Diskusi yang dilakukan secara online ini menghadirkan pakar hukum internasional Hikmahanto Juwana, mantan Duta Besar Indonesia untuk Australia dan China Imron Cotan, dan mantan Duta Besar Indonesia untuk Ukraina Yuddy Chrisnandi.

Berita terkait: Ekonomi RI berpeluang terkontraksi 0,014% akibat konflik Rusia-Ukraina
Berita terkait: Ukraina, Rusia di Bali serukan perdamaian di tengah perang Ukraina-Rusia
Berita terkait: 99 WNI dievakuasi dari Ukraina: menteri