Kerjasama BKKBN-Rumah Zakat untuk mempercepat pengurangan stunting

Jakarta (ANTARA) – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan yayasan zakat, Rumah Zakat, untuk mendukung program pembangunan keluarga dan percepatan pengurangan stunting.

“Mengingat jumlah waktu yang tersedia, kami memiliki waktu kurang dari tiga tahun untuk mengawal konvergensi program atau kegiatan untuk memenuhi target penurunan stunting yang ditetapkan yang dapat menjangkau kelompok sasaran, seperti remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Demikian disampaikan Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.

Wardoyo mengatakan, upaya pemberantasan stunting harus didukung oleh sumber daya yang memadai, sehingga setiap intervensi dapat dipastikan menjangkau keluarga yang berisiko stunting.

Untuk menjangkau seluruh keluarga, BKKBN dituntut untuk menjalin kerjasama dengan semua pihak di masyarakat, termasuk dengan bekerjasama dengan Yayasan Rumah Zakat.

Baca juga: BKKBN Gandeng Kemendiknas Berantas Stunting

Kerjasama tersebut diharapkan dapat mengembangkan program Kampung KB Berkualitas melalui salah satu kegiatan baru yaitu Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat).

“Rumah Zakat telah bersinergi dalam upaya pencegahan stunting dengan desa, kecamatan, dan puskesmas di beberapa provinsi, termasuk membuat Dapur Gizi dan Kebun Gizi yang digagas oleh para relawan Rumah Zakat,” jelasnya.

Lebih dari itu, kerjasama tersebut diharapkan dapat membantu UMKM menjadi mandiri dalam upaya mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang terdampak pandemi COVID-19.

Lebih lanjut, kerjasama tersebut diharapkan dapat membantu para pelaku UMKM yang merupakan bagian dari pelaku usaha, untuk meningkatkan pendapatan kelompok keluarga penerima (UPPKA).

Direktur Utama Rumah Zakat Nur Efendi mengatakan, kerjasama lintas sektor dan kementerian terkait yang dibarengi dengan dukungan dari para donatur merupakan kunci keberhasilan program-program yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Indonesia.

“Kami mampu memberikan lebih dari 42 juta penerima manfaat di 34 provinsi di Indonesia, dengan dana yang bersumber dari sebanyak 789 ribu donatur, serta menghadirkan 1.695 desa berdaya, 20 sekolah unggulan, dan sembilan puskesmas,” ujarnya.
Berita terkait: Perbaikan gizi anak kunci cegah stunting: BKKBN
Berita terkait: Gelombang ketiga COVID dapat mempersulit upaya pemberantasan stunting: MP