Kasus Omicron diperkirakan akan memuncak sekitar pertengahan Maret: Pemerintah Indonesia

  • Whatsapp

Jakarta (ANTARA) – Puncak infeksi Omicron di Indonesia diperkirakan akan tercapai dalam tiga minggu ke depan, atau sekitar pertengahan Maret 2022, kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

“Pemerintah terus memantau dan menyiapkan langkah-langkah karena puncak kasus Omicron akan tercapai dalam tiga minggu ke depan,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Read More

Kasus COVID-19 di luar Jawa Bali tercatat mengalami peningkatan, dengan proporsinya mencapai 23 persen dari kasus aktif nasional, atau 124.714 dari 536.358 kasus, katanya.

Meski kasus COVID-19 meningkat, namun tingkat hunian tempat tidur (BOR) masih terkendali, mengingat gejala Omicron tidak separah yang disebabkan varian Delta, kata menteri.

“Meskipun kasus COVID-19 meningkat, namun okupansi rumah sakit tetap terkendali,” katanya.

Misalnya, tingkat hunian tempat tidur (BOR) Sumatera Utara 31 persen dengan konversi 19 persen, Sulawesi Selatan memiliki BOR 30 persen dengan konversi 16 persen, dan Kalimantan Timur memiliki BOR 29 persen dengan konversi. sebesar 23 persen, katanya.

Tingkat hunian tempat tidur di tiga wilayah itu masih terkendali meski kasus COVID-19 meningkat mencapai 10 ribu, katanya.

Tingkat hunian tempat tidur nasional adalah 38 persen, tetapi di luar Jawa dan Bali kurang dari 30 persen, kata Hartarto. Sementara okupansi tempat tidur di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Bengkulu, Lampung, dan Kalimantan Selatan berkisar antara 31-35 persen, katanya.

Sedangkan hunian tempat tidur di ruang isolasi terpusat 5,89 persen dari 29.723 tempat tidur, dan jumlah tempat tidur masih bisa ditambah menjadi 48.399 tempat tidur, katanya.

BACA JUGA:  Hong Kong pertimbangkan 'lockdown' di tengah lonjakan kasus COVID-19

Untuk cakupan vaksinasi dosis pertama, tiga provinsi mencatat angka vaksinasi di bawah 70 persen—Maluku, Papua Barat, dan Papua, tambahnya.

Sedangkan cakupan dosis kedua di Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Aceh, Papua Barat, dan Papua di bawah 50 persen, kata Hartarto.

Cakupan vaksin booster di seluruh provinsi di luar Jawa dan Bali masih di bawah 10 persen, tambahnya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya mengimbau warga untuk mendapatkan vaksin booster untuk memperkuat kekebalan mereka begitu khasiat dua dosis vaksin pertama mulai menurun.

“Pada masa pandemi, vaksinasi juga penting. Yang belum divaksin, segera dapatkan vaksinnya; yang sudah mendapat dosis vaksin pertama, dapatkan dosis kedua; dan yang sudah menyelesaikan dua dosis, segera dapatkan vaksinnya. dosis booster,” katanya.

Berita terkait: Transmisi Omicron terkendali: Pemerintah Indonesia

“Semua dosis vaksin ditawarkan secara gratis, karena vaksinasi penting untuk keselamatan kita,” kata Presiden.

Indonesia saat ini mengalami lonjakan kasus COVID-19 karena varian Omicron yang baru muncul, ujarnya.

“Oleh karena itu, kita harus waspada, namun tidak boleh bereaksi berlebihan terhadap situasi saat ini. Kita harus berhati-hati dan waspada, tetapi kita tidak boleh menimbulkan rasa takut atau panik,” tegasnya.

Presiden Jokowi mencontohkan penelitian medis, termasuk laporan WHO tentang varian virus, mengungkapkan bahwa tingkat penularan varian Omicron lebih tinggi daripada strain virus lainnya.

Berita terkait: Lonjakan COVID-19 Juga Terlihat di Daerah Luar Jakarta: Kepala BNPB

Related posts