BNPB harus punya budaya kerja waspada: Presiden

  • Whatsapp

Budaya kerja sangat penting karena bencana datang tak terduga

Jakarta (ANTARA) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendesak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memiliki budaya kerja yang waspada dan antisipatif.

Read More

“Sebagai salah satu pilar utama mitigasi bencana, BNPB harus selalu berbenah diri. Pertama, budaya kerja BNPB harus waspada, antisipatif, responsif, dan adaptif,” kata presiden saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana 2022. di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu.

Kepala negara sangat mementingkan budaya kerja karena sifat bencana alam yang sporadis dan tidak terduga.

“Budaya kerja sangat penting karena bencana datang secara tiba-tiba. Datangnya tiba-tiba bahkan bencana yang tidak terbayangkan sebelumnya, salah satunya adalah pandemi COVID-19,” ungkapnya.

Jokowi menekankan bahwa segala ketidakpastian terkait bencana harus ditangani untuk meminimalkan risiko bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

“Sebagai negara yang dikelilingi oleh cincin api, dengan wilayah yang sangat luas, bencana adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Indonesia adalah salah satu dari 35 negara yang paling rawan risiko bencana di dunia. Hampir setiap hari terjadi bencana. di beberapa wilayah negara kita, Indonesia,” kata Presiden.

Akibatnya, risiko kerugian manusia dan material akibat bencana juga sangat tinggi.

“Oleh karena itu, mitigasi bencana harus dilakukan secara terpadu, sistematis, dan Masterplan Mitigasi Bencana 2020-2044 harus dilaksanakan dengan penuh komitmen dan tanggung jawab,” tegasnya.

Presiden Jokowi juga mengimbau agar seluruh tahapan dalam Masterplan Mitigasi Bencana 2020-2044 dilaksanakan secara disiplin dan konsisten.

“Indonesia harus menjadi bangsa yang tangguh terhadap bencana,” ujarnya.

BACA JUGA:  Kemendagri gelar workshop film pendek di Mandalika untuk dukung kreativitas

BPNB sebelumnya melaporkan bahwa 3.058 bencana alam telah melanda Indonesia sejak 1 Januari hingga 28 Desember 2021.

Sebanyak 1.288 kejadian banjir terjadi atau merupakan 42,1 persen dari seluruh bencana, disusul 791 kejadian bencana terkait cuaca ekstrim dan 623 kejadian tanah longsor.

Selain itu, 265 kejadian kebakaran hutan dan lahan, 44 kejadian gelombang pasang dan abrasi, 31 kejadian gempa bumi, 15 kejadian kekeringan, dan satu kejadian letusan gunung berapi.

Ribuan bencana tersebut menimbulkan kerugian materil dengan menghancurkan 141.795 rumah, 3.699 fasilitas umum, 509 perkantoran, dan 438 jembatan.

Jawa Barat merupakan provinsi yang paling banyak mengalami bencana alam, yaitu mencapai 754 kejadian, sedangkan Provinsi Papua Barat mencatat jumlah bencana alam terendah, yaitu tiga kejadian.

Berita terkait: BNPB bagikan masker gratis di 47 lokasi di Jakarta
Berita terkait: Pembangunan infrastruktur seharusnya tidak meningkatkan risiko bencana: Jokowi
Berita terkait: Risiko bencana di Sulawesi Tengah menurun: BMKG

Related posts