Akademisi: Jadikan agama sebagai pedoman untuk perdamaian dan antikekerasan

Jakarta (ANTARA) – Dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta, Dr H Amir Mahmud menjelaskan, agama harus berperan sebagai sumber inspirasi perdamaian dan anti kekerasan di tengah bangsa Indonesia yang beragam.

“Sebagai orang yang beragama tentunya harus cinta damai dan menjauhi segala macam hal yang dapat menimbulkan perselisihan, perpecahan dan sebagainya,” ujarnya di Surakarta, Jawa Tengah, Rabu, menurut siaran pers dari PMD. BNPT.

Dosen Pascasarjana Program Studi Magister Pendidikan Islam ini melanjutkan bahwa semua agama di dunia ini membawa pesan perdamaian dan anti kekerasan, sehingga masyarakat Indonesia yang agamis dan agamis hendaknya menjadikan agama sebagai pedoman perdamaian.

“Kita semua umat beragama tahu bahwa semua agama di dunia ini memiliki pesan perdamaian dan nir-kekerasan,” kata Amir.

Sebagai seseorang yang pernah tinggal di daerah konflik yaitu Afghanistan, Amir Mahmud yang juga lulusan Akademi Militer Afghanistan ini berbagi pengalaman tentang betapa berharganya hidup di negara yang damai.

“Begitu sulitnya kita sebagai manusia untuk berkomunikasi dan beraktivitas dalam kehidupan bermasyarakat (di tengah konflik). Selalu ada rasa takut, tidak nyaman, bahkan permusuhan satu sama lain,” jelas Direktur Amir Mahmud Center yang bergerak di bidang kajian Counter Narratives and Ideology of Radical Terrorist ini.

Menurutnya, konflik yang bermunculan di berbagai negara dipicu oleh kepentingan politik dan kurangnya penghargaan terhadap perbedaan. Kondisi seperti itu seringkali menimbulkan kehancuran dan kerugian bagi diri sendiri dan masyarakat luas.

Untuk itu, bangsa Indonesia harus banyak belajar dari berbagai konflik yang ada di berbagai negara. Jangan sampai masyarakat mudah diadu domba dan terbelah oleh kepentingan politik dan juga perbedaan yang bisa berujung pada konflik. Apalagi di era post-truth dan media sosial saat ini, masyarakat cenderung sering terlibat dalam perselisihan dan praktik intoleransi yang kerap menimbulkan kegaduhan di masyarakat, ujarnya.

BACA JUGA:  LPOI: Deteksi dini virus radikalisme perlu diatur

Baca juga: BNPT Perkuat Sinergi Ulama-Umara dalam Penanggulangan Terorisme

“Masalah bangsa kita adalah saling menghujat, saling klaim di media massa dan media sosial. Tentu saja ini sikap bujur dimana kepentingan kelompok lebih penting daripada kepentingan hidup orang banyak. berbangsa dan bernegara,” terang peraih gelar Doktor Ilmu Agama Islam dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Menurutnya, perlu ada cara yang efektif untuk menyadarkan masyarakat betapa berbahayanya mempertahankan egoisme demi kepentingan kelompok dan politik, sehingga tidak mudah terprovokasi atau diadu oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Selain itu, seluruh komponen masyarakat harus mampu mengendalikan diri. Jangan mudah terprovokasi atau tawuran antar kelompok yang tidak menyukai perdamaian yang ingin menghancurkan bangsa.

Ia juga menambahkan pentingnya peran penyelenggara negara dan penegak hukum untuk menindak tegas oknum-oknum yang dianggap sering memprovokasi masyarakat.

Baca juga: BNPT Pastikan IKN Bersih dari Radikalisme dan Terorisme

“Kami meminta aparat keamanan menindak tegas setiap orang atau kelompok yang melakukan aksi provokasi di masyarakat, terutama yang ‘sumbu pendek’,” katanya.

Selain pentingnya pengendalian diri dan peran aparat penegak hukum, Amir menilai tanggung jawab menciptakan perdamaian menjadi tanggung jawab semua pihak, terutama tokoh agama dan tokoh masyarakat sebagai ujung tombak kekuasaan di masyarakat.

“Negara ini bisa hancur jika pemimpinnya tidak bisa memberikan pemahaman kepada rakyatnya bahwa segala macam perbedaan yang ada adalah sunnatullah atau keniscayaan,” katanya.

Menurutnya, di tengah kondisi sosial yang pluralistik ini, perbedaan doktrin, peribadatan, dan simbol-simbol agama idealnya tidak dipahami sebagai tembok pemisah, apalagi alat untuk mendiskreditkan kelompok agama lain.

Baca juga: BNPT: Terorisme Proksi Hancurkan Islam dan Negara

Dengan begitu, agama akan menjadi inspirasi persatuan dan perdamaian, bukan sumber konflik dan kekerasan, katanya.

BACA JUGA:  AHY menyebut wacana penundaan pemilu 2024 tidak logis

Terakhir, Amir Mahmud menyampaikan pesannya kepada masyarakat untuk selalu menjaga perdamaian tanpa perang dan kekerasan di negara yang penuh keragaman ini.

“Ketika ada perbedaan, tentunya kita harus selalu bisa saling menerima dengan lapang dada atas perbedaan yang Tuhan berikan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini,” ujarnya.

Wartawan: M Arief Iskandar
Redaktur: Herry Soebanto
HAK CIPTA © ANTARA 2022