Pangkal Pinang Bikin Takjub

Sampai bassist kami hampir ketinggalan

Selain bisa melepas penat atau penyalur hobi, alasan kami bermusik adalah bisa bertemu dengan teman-teman yang memiliki hobi yang sama khususnya di bidang seni. Nggak ketinggalan juga alasan lainnya adalah bisa jalan-jalan ke tempat yang belum pernah kami kunjungi.

Awal bulan lalu, tepatnya tanggal 5 Mei 2018, kami kembali diundang untuk tampil di salah satu kota bagian Barat Indonesia. Ada yang tau apa? Salah, yang benar adalah kota Pangkal Pinang.

Setelah Muara Bungo, kota yang bikin kami takjub kali ini adalah Pangkal Pinang. Bukan tanpa alasan bangkutaman bilang seperti itu. Alasannya adalah karena kami kaget, anak muda di kota Pangkal Pinang ini sangat mengapresiasi karya bangkutaman.

Buktinya, ada beberapa teman-teman di sana ingin sekali bangkutaman memainkan lagu “Satelit”. Sayangnya, kami tidak ada persiapan untuk membawakan lagu lama tersebut. Walau begitu, bangkutaman tampil all out dan membawakan beberapa lagu hits di album Ode Buat Kota yang memang dinantikan juga.

Di kesempatan kali ini juga, kami membawakan kurang lebih 10 lagu yang diambil dari album Ode Buat Kota dan mini album Rileks. Dari awal hingga akhir penampilan, bersyukur teman-teman sangat menikmati penampilan kami dengan jajanan yang tersedia di venue. Sedikit informasi aja, tempat bangkutaman kali ini bermain di sebuah foodcourt yang lumayan nge-hits di Pangkal Pinang.

Setelah tampil, kira-kira pukul 00:00 wib, kami pun nggak mau begitu aja kehilangan momen di kota Pangkal Pinang. Kami diajak, LO untuk menikmati kopi legendaris bernama Tung Tau yang berada di pusat kota dan ke pusat oleh-oleh ASE.

Setelah menikmati beberapa menu di tempat tersebut, kami pun kembali ke hotel yang terletak tak jauh dari venue dan bandara.

Di hari berikutnya, sebelum pulang ke Jakarta kami diajak kembali menikmati beberapa tempat makan yang rekomendasi. Dalam kesempatan jalan-jalan itu, kami juga melihat beberapa pemandangan yang jarang kami temukan lagi belakangan ini, yaitu warga-warga yang saling membantu membersihkan tempat ibadah. Ini yang sangat jarang kami lihat di ibukota saat ini. Kami berharap, kota-kota besar di Indonesia bisa kembali saling membantu tanpa harus melihat suku, ras, dan agama seperti yang ditunjukkan warga-warga di Pangkal Pinang.

Di sela-sela tersebut, ada yang bikin para personil dan tim minimalis bangkutaman lucu untuk mengingatnya. Ketinggalannya Madava di tempat makan. Atas kejadian tersebut kami terpaksa kembali lagi ke tempat makan itu. Sampai hampir ketinggalan pesawat kembali ke Jakarta.

Terima Kasih Pangkal Pinang, semoga lain waktu bangkutaman bisa kembali lagi dan menikmati keramahan kota kalian. Salam!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *