Bangkutaman X Mata Biru : Menjadi Manusia Yang Peduli

Selesai sudah hasil kolaborasi Bangkutaman dengan Komunitas Mata Biru. Mata Biru adalah sebuah komunitas yang memiliki misi bersosial lewat konten video.

Berawal dari pembuatan film dokumenter tentang fasilitas penanganan orang sakit jiwa bernama Yayasan Dzikrul Ghofilin di daerah Wonosobo milik Ibu Utiyah, teman-teman Mata Biru mendapati kisah Ibu Utiyah itu perlu disebarkan ke lebih banyak orang di beragam kalangan. Kisah hidup Ibu Utiyah adalah fakta bahwa dalam hidup kita yang ada di kota besar ini sebenarnya lebih dari cukup dan jauh lebih beruntung, namun sering-seringnya lupa untuk disyukuri.

Kolaborasi antara Bangkutaman dan Komunitas Mata Biru ini adalah video klip dengan data yang mengedukasi para penontonnya. Video klip ini bahkan dibintangi salah satu pasien yang sudah sembuh di Yayasan Ibu Utiyah.

Bertujuan untuk menyadarkan dan mengedukasi khalayak, yang khususnya hidup di kota-kota besar, agar lebih peduli dengan mereka yang dianggap gila. Lagu “Lelaki & Hidupnya” dari Bangkutaman yang kebetulan terinspirasi dari kehidupan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di jalanan ibukota disumbangkan untuk kolaborasi ini.

Berikut ringkasan hasil obrolan Bangkutaman dengan Komunitas Mata Biru yang diwakili oleh Fildha Laksita:

1) Mengapa Komunitas Mata Biru mau repot-repot melakukan kampanye ini?

Kami sadar betapa hebatnya orang-orang seperti Bu Utiyah, yang mau mendedikasikan hidupnya untuk menolong dan memperhatikan sesama. Dunia mungkin terasa angkuh apabila para penolong seperti Bu Utiyah ini tidak pernah ada. Setelah kami beberapa kali menengok kediaman Bu Utiyah, ada hal yang membuat kami sedih. Tidak adanya perhatian dari pemerintah lah yang membuat kami sedih. Bertahan dengan berhutang adalah jalan satu-satunya. Belum lagi penyakit kulit yang saat ini melanda Yayasan hingga menyebabkan kematian. Kami ingin membantu meringankan beban Bu Utiyah lewat kampanye ini dengan berkolaborasi bersama bangkutaman

2) Kenapa Bangkutaman?

Lagu “Lelaki dan Hidupnya” adalah salah satu alasan kenapa akhirnya kami berkolaborasi. Ada satu pasien laki-laki yang sudah berkeluarga namun tidak tahu saat ini keluarganya di mana karena dia sudah tak dianggap, bahkan sampai saat ini tidak pernah dijenguk. Dia mengidap Skizofrenia dan saat ini tinggal di yayasan Bu Utiyah. Kami mengajak bangkutaman untuk berkolaborasi dengan menawarkan cerita pasien laki-laki ini. Dan ternyata cocok karena inspirasi lagu ini pun dari ODGJ yang terlantar.

3) Apa tujuan akhir dari kolaborasi ini?

Kami ingin menyebarkan energi berbagi kepada semua anak muda lewat musik dan film tentunya. Maka terciptalah kolaborasi ini dengan bentuk video musik yang nantinya akan disambung dengan Film yang berjudul “Saya Lebih Gila”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *